Sedikit kecemasan akan dialami oleh para pebisnis baik di Jakarta maupun di luar Jakarta. Hal yang membuat mereka cemas dikarenakan kondisi pasar yang tidak baik karena Bank Indonesia telah mengurangi proyeksi pertumbuhan kredit perbankan. Dengan diturunkannya volume tersebut para pebisnis menjadi khawatir terhadap kucuran kredit yang dijadikan acuan dalam menentukan pertumbuhan dan kinerja dalam sektor riil.
Tingkat BI Rate tidaklah harus dijadikan satu-satunya tolak ukur yang mampu mendorong kinerja sektor manufaktur. Masih ada faktor lain seperti masalah infrastruktur, lambatnya proses reformasi birokrasi dan faktor lainnya yang bisa dijadikan tolak ukur yang membuat tingkatan BI Rate menurun.
Wakil ketua Umum API menilai bahwa secara keseluruhan yang dialami industri dalam negeri membuat daya saing terus melemah. Perbankan nasional sangat lambat dalam menurunkan suku bunga kredit, yang disebabkan swasta terlalu banya menunggu penyerapan kredit di sektor konstruksi.
Jika anda seorang pebisnis yang ikut mengalami kecemasan, kejelasan lebih lengkap di sini
Senin, 10 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar