Dalam penguatan rupiah yang tajam terhadap dollar AS saat ini tidak perlu diganggu karena akan mendorong peningkatan surplus neraca perdagangan ini menurut Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto, lalu ia menambahkan terkait apresiasi rupiah yang tajam terhadap dollar AS sebenarnya jangan terlalu dipersoalkan karena secara neto memberikan manfaat untuk neraca perdagangan di mana importer akan lebih agresif membeli bahan baku impor sementara ekspor bisa digenjot lebih besar lagi sehingga dapat menaikkan surplus neraca perdagangan,
Adapun penguatan rupiah yang terus berlanjut saat ini terjadi secara alami, sehingga gangguan penguatan rupiah justru tidak diharapkan oleh para pelaku pasar. Dan yang penting apresiasi rupiah terjadi secara alamiah dan bukan ’by design’ (dibuat) kru intervensi otoritas moneter. Kalau memang rupiah berpotensi menuju level Rp 9.000 per dollar AS, berarti memang rupiah diapresiasi dengan baik oleh pelaku pasar karena kinerja perekonomian yang baik. Dan otoritas moneter yaitu Bank Indonesia sebaiknya tetap fokus pada usaha untuk mengurangi gejolak dan fluktuasi nilai tukar rupiah agar tidak terlalu tajam. "Yang jelas ada saatnya rupiah menguat dan ada saatnya melemah, semuanya karena mekanisme pasar yang bekerja. Yang penting volatilitas dan fluktuasinya jangan terlalu tajam saja," selengkapnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar